Blinking Cute Box Cat Welcome to my world. Still hard work to get my beautiful dreams!

Selasa, 25 Februari 2014

Kamu, ya cuma kamu!

Hujan hari ini cukup deras mengguyur. Aku kedinginan menatap nanar lekat wajahmu di layar milikku. Kamu sedang tersenyum. Manis dan tampan sekali. Aku kembali merindukanmu. Aku kembali mengingat kenangan indah yang pernah aku ukir sendiri bersama bayanganmu. Meski itu hanya bersama bayangmu, semuanya terasa sangat indah. Aku tahu aku terlalu mencintaimu. Aku juga sangat mengerti bahwa aku sangat mengharapkanmu. Aku mungkin memang terlalu berharap waktu masih mau mempertemukan aku lagi. Tak ada yang mampu melebihi kamu di mataku. Aku mencintaimu dan akan tetap slalu mencintaimu.

Mungkin aku belum bisa melupakanmu. Melupakan semua kenangan yang memang sengaja aku buat sendiri. Aku tertawa dalam sikapku yang konyol saat merindukanmu. Semuanya terasa begitu menyenangkan. Namun tetap saja aku masih merindukanmu. Aku selalu menyesal mengapa dipertemukan denganmu ketika hati sedang tak enak sehingga melihatmu seperti petaka. Namun aku menyesal mengapa saat itu aku tak tersenyum padamu. Oh, betapa tololnya aku!

Kamu, iya kamu yang jauh disana. Kamu yang sedang tersenyum bersanding dengannya. Tahukah kamu bahwa kamulah sumber motivasiku. Kamu yang selalu hadir dalam wujud bayangan ketika aku sendiri butuh motivasi. Kamu yang selalu datang dalam benakku ketika jiwa sedang sendiri. Kamu motivasi terbesarku untuk meraih mimpi hingga kini. Aku yang tetap mencintaimu dan akan tetap mencintaimu, akan tetap menjadikanmu sebagai motivator luar biasa untukku. Aku merindukan suasana hangat yang kuciptakan sendiri saat memandangmu dulu yang sedang duduk berdua dengannya. Saat itu aku tahu aku cemburu. Aku tahu aku ingin menangis. Namun apa daya, aku tak bisa melakukan apa-apa. Meskipun hatiku sakit, aku tetap bahagia bila melihatmu bahagia juga. Meski bukan aku yang di sampingmu. Meski bukan aku yang jadi pewarna dalam hidupmu.

Aku mencintaimu dalam dimensi waktu jauh. Aku terkalahkan olehnya yang telah ada di hatimu hingga kini. Memang bukan salahmu juga bukan salahku. Aku tahu ini begitu menyakitkan namun apalah daya, aku mencintaimu tanpa alasan dan tak mampu hingga kini aku menghapus kenangan dengan mudahnya. Aku ingin kamu tahu disini ada orang yang setia berdoa untukmu. Menangis untukmu dan sok kuat. Padahal sejujurnya hatiku sungguh rapuh. Namun apalah daya, tanganku tak mampu menggapaimu. Memang, dulu aku pernah kau bawa terbang ke angkasa. Namun kamu malah pergi bersamanya lalu menjatuhkanku sesukamu. Dan tak pernah kembali. Betapa tololnya saat itu aku dan aku akan tetap tolol karna sampai sekarang masih mencintaimu!!

Aku tidak suka menunggu. Namun tetap saja tetap akan kalah pada jatuh cinta tanpa alasan atau jatuh cinta diam-diam padamu yang tak pernah kuketahui maksud tujuan Tuhan membuatku jatuh pada lubang yang sama berkali-kali tanpa memberitahuku bagaimana caranya melupakanmu. Aku mencintaimu, sungguh mencintaimu dan itu takkan pernah berubah meski sosokmu tak dapat lagi kulihat sesukaku seperti dulu. Dimana senyummu yang pernah kau sunggingkan padaku dulu? Mengapa tlah sirna termakan waktu? Aku merindukan kenangan itu dan mengapa kenangan itu tak pernah dapat terulang. Mengapa?

Mengapa hanya aku yang mencintaimu? Mengapa hanya aku yang merindukanmu? Mengapa hanya aku yang mengharapkanmu tanpa kamu mengharapkanku juga. Mengapa dan mengapa? Mengapa kamu yang ada di hatiku? Mengapa aku harus jatuh cinta padamu? Mengapa harus kamu? Pertanyaan itu tak pernah bisa di jawab dan itu pertanyaan dasar yang tak masuk akal sebenarnya. Tapi aku juga ingin tahu alasan Tuhan membuatku seperti ini. Aku mau tahu Tuhan!

Aku selalu berpikiran positif pada Tuhan. Berharap Tuhan kan segera membuatku melupakan dia yang sangat kucintai. Memang Tuhan pernah memberiku kesempatan untuk melupakannya. Namun Tuhan kembali membuatku jatuh cinta padanya lagi dan lagi. Aku bingung mengapa harus dia yang kucintai. Mengapa harus dia yang membuatku jatuh cinta untuk waktu yang lama ini. Aku tak bisa menahan lagi sakit yang luar biasa ini terutama saat merindukanmu. Kembali berharap kamu kan lagi datang untuk sejenak membiarkan aku menatapmu untuk membalas pertemuan yang tak pernah ku syukuri kala itu. Aku mohon, berikanlah aku waktu sejenak untuk menatapmu.

Dulu, aku berharap bertemu denganmu untuk terakhir kalinya. Setelah aku bertemu denganmu lagi, aku rasanya membencinya padahal aku tak bisa memunafikkan hatiku bahwa kala itu hatiku sangatlah bahagia. Namun berita itu yang membutakan hatiku untuk berbohong. Iya, aku berbohong bahwa masih mencintaimu. Padahal jelas-jelas aku sangat mencintaimu. Dan aku baru menyadari bahwa tidak cukup sekali untukku melihatmu. Rinduku selalu melebihi batas. Aku bahkan tak bisa menahan rindu yang selalu membludak hingga akhirnya aku kembali menangis. Iya, menangis karena merindukanmu sudah sering aku lakukan. Namun tetap saja. Butuh waktu yang sangat panjang bagi waktu memberiku kesempatan bertemu dengannya lagi. Kala itu aku bertemu denganmu setelah 6 bulan lebih tak melihatmu. Jadi akankah aku menunggu selama itu untuk bertemu denganmu lagi? Aku janji, aku akan tersenyum semanis mungkin saat bertemu denganmu lagi, entah kapan lagi waktu kan mempertemukan.

Aku dulu pernah berpikir sudah melupakanmu. Namun nyatanya hatiku kembali luluh akan cinta yang dulu pernah aku bangun sendiri tanpamu. Lalu aku dikejutkan oleh berita buruk tentangmu. Aku tak percaya namun ada fakta bukti yang membuktikan. Aku lantas percaya saja. Tanpa di duga, Tuhan mempertemukan aku lagi denganmu dalam keadaan aku yang kecewa padamu. Ya, aku kembali menyia-nyiakan waktu itu untuk tersenyum padamu. Namun penyesalan memang datang belakangan. Lebih baik kamu pergi sajalah untuk waktu yang lama untuk memberiku waktu menetralkan hati yang masih terluka seperti dulu. Aku memang mencintaimu namun biarkanlah aku mencoba melupakanmu perlahan. Jika suatu saat kta berjodoh, kita tetap akan bertemu lagi meski dimensi waktu telah berputar dan mencoba menjauhkan. Kita akan tetap betemu. Percaya itu!!

Untuk serpihan hati yang hilang,
Terbang bersama angin dan larut bersama air,
Mengalir seperti cinta yang tak pernah berhenti untuk waktu yang panjang,
Untuk penantian yang panjang,
Suatu saat kan ada jawaban indah yang kan mengobati hati yang terluka,
Dengan kebahagiaan yang luar biasa antara aku dan kamu,
Atau aku dengan takdirku.

Rabu, 05 Februari 2014

Kembali Lagi

Kamu masih seperti dulu. Masih selalu bisa membuatku terpesona dan berdecak kagum. Iya, karena kamu telah kembali dalam jangkauan mataku. Kembali aku dapat memandangimu lekat-lekat pesona yang tak pernah dapat aku lupakan begitu saja. Kamu memang kembali namun bukan untuk aku miliki. Kamu memang kembali namun seterusnya takkan bisa kupandangi lagi. Bukan karena apa. Tapi karena aku takut. Takut bila terus-terusan berdiri disini memandangimu aku takkan pernah melupakanmu. Namun nyatanya, meski aku sudah lama tak memandangimu, aku masih sangat mencintaimu seperti layaknya pertama kali dulu kita bertemu. Entah bagaimana caranya hati ini tetap bertahan mencintaimu selama ini. Bila ku hitung, sudah hampir 2 tahun hati ini telah tertambat padamu. Dan semua itu semu tak pernah ada kejelasan.

Mungkin aku yang terlalu bodoh terlalu menggantungkan harap yang tak pernah terwujud. Mungkin aku yang terlalu semudah itu jatuh cinta pada kekasih orang. Aku tahu itu salah, namun hal apa yang harus kulakukan untuk mencegahnya sedang hatiku menolak untuk tidak mencintaimu. Aku sudah mencoba beratus-ratus kali untuk melupakanmu namun apa daya hatiku semakin sakit untuk melakukannya. Serasa ingin ku buang hatiku saja karena ia tak pernah mendengarkan apa pintaku. Seharusnya ia menurutiku. Namun hatiku memberontak tak mau untuk melupakanmu. Hatiku malah semakin sakit untuk melupakanmu karena ia aku paksa namun yang ada malah semakin sakit dan terluka. Ya, memang aku terlalu mencintaimu dan tak pernah ku munafik tentangnya.

Kali ini waktu lagi-lagi mempermainkanku. Aku lelah untuk mencoba mengerti. Aku tidak lagi bisa mengerti apa artinya. Tapi aku harus mengerti apa yang diinginkan oleh waktu. Dia mengoyak-oyak kembali hatiku. Padahal aku sudah mencoba untuk membersihkan dari sisa-sisa puing harap yang lalu. Aku lelah untuk lagi berharap yang tidak pernah terjadi. Mungkin aku terlalu berharap. Sungguh sangat berharap meski aku tahu itu akan menyakitkan. Sesungguhnya aku tahu aku sakit dan tak mau untuk menambah luka yang hingga kini tak kunjung sembuh namun hatiku benar-benar tak mampu memunafikkan bahwa aku masih mencintainya.

Kamu ya tetap kamu. Masih selalu bisa membuatku terpesona. Masih selalu bisa membuatku tak berhenti untuk berdebar tak karuan. Aku masih mencintaimu. Seperti yang lalu. Dan bodohnya, aku masih mengharapkanmu. Dan berharap hari itu akan menjadi milikku bersamamu. Namun, itu tentu hanya khayalan imajiku semata. Sesungguhnya, aku lelah menjadi seperti ini. Rasa-rasanya aku ingin memutar waktu setahun lalu untuk mencegahmu datang ke hidupku bila pada akhirnya hatiku benar-benar terpatri untukmu. Mungkin aku menyesal. Namun, mencintaimu telah mengajarkan aku pada banyak hal.

Setahun lebih mencintaimu bukanlah hal yang mudah bila pada nyatanya kita tak pernah saling menyapa. Pada nyatanya kita tak pernah saling mengenal. Hanya aku yang selalu mengenalmu tanpa kamu mengenalku juga. Aku selalu muncul di setiap hampir semua sosial media milikmu. Mungkin karena kamu sudah memiliki kekasih jadi aku tak pernah terlalu ditanggapi. Padahal aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku mencintaimu. Sungguh jauh di dasar hatiku. Aku sangat mencintaimu dan mungkin sampai kapanpun, hanya aku yang merasakannya. Aku sangat mengharapkanmu dan mungkin sampai waktu tak lagi berputar, hanya aku yang mengharapkan kehadiranmu lagi. Dan bodohnya, aku tak bisa melupakan semua itu. Terutama senyuman itu. Oh, sungguh benar-benar aku mencintaimu!!!

Jadi, tetaplah hidup dengan tenang dan bahagia. Agar aku lega melihatmu dari kejauhan. Dan kapanpun bila kau ingin pulang, aku selalu dan akan selalu menyambutmu dalam hati yang akan tetap ada ruang kosong untuk kamu tempati kapanpun. Tapi janganlah kamu terlalu lama pergi agar ketika kamu pulang, hatiku tak ditempati oleh yang baru. Tapi sepertinya, hingga kini pun aku belum bisa melupakanmu jadi mungkin akan lebih lama untuk mengosongkan ruang di hatiku hanya untukmu seorang.

Tak ada kata yang lebih baik untuk mengungkapkan,
Selain kata cinta yang terucap dari hati yang tulus,
Yang akan selalu menunggu, kapanpun,
Tapi janganlah terlalu lama pergi jauh,
Jadi kejarlah bahagia sebanyak mungkin lalu temuilah aku,
Dan sediakan juga ruang kosong untukku tinggal, bersamamu.


Senin, 27 Januari 2014

Puing Harap

Tak ada lagi seorang yang dapat kutatap. Tak ada lagi alasan buatku tetap tersenyum. Bahkan tak ada lagi napas dapat kuhela seperti biasanya. Dadaku seakan tercekat dan menyumbat karena kenangan-kenangan tentangmu yang memenuhi seluruh sudut hatiku bahkan seluruh jiwa ragaku. Kenangan itu, aku merindukanmu. Aku merindukan apa yang pernah jadi penyebab pecahnya tangisku. Aku tak mau mengingatnya lagi. Namun kenangan itu seakan sudah memenuhi seluruh sudut ruang jiwa dan ragaku. Sehingga, ketika aku ingin melupakanmu. Selalu saja ada sisa kenangan tentangmu yang sulit sekali untuk dihapusnya. Aku mencintaimu. Tepatnya, sangat mencintaimu.

Mungkin, aku yang bodoh terlalu mengharapmu yang takkan pernah kembali. Mungkin iya, aku yang terlalu mencintaimu sehingga menatap yang lain pun aku tidak bisa. Mataku selalu dan selalu menatapmu sehingga ketika yang lain sedang menatapku, aku tak pernah bisa mengalihkan pandanganku darimu. Entah bagaimana caranya kamu bisa membuatku jatuh cinta kala itu. Senyuman itu, tatapan mata itu. Seakan berbicara padaku. Menunjukkan sebuah ruang di hatimu yang mungkin kan kosong untukku. Namun aku salah. Aku salah besar. Aku tak bisa lagi mengharapkanmu untukku. Bahkan memikirkanmu dan merindumu itu hal yang seharusnya dilarang. Tapi aku ya aku, aku tak pernah bisa untuk memunafikkan apa yang kurasa. Meski itu sakit dan tak seharusnya kulakukan.

Seharusnya aku melupakanmu. Iya, seharusnya kamu sudah pergi dari hatiku. Namun tetap saja, kenangan-kenangan itu kembali menyeruak kembali memenuhi relung kesepianku. Aku yang terlalu bodoh. Terlalu mengharapkan apa yang sudah menjadi orang lain. Aku yang terlalu berlebihan mengartikan segalanya. Padahal itu tak ada artinya bagimu. Mungkin, bagimu aku adalah mati. Aku tak menarik, sehingga di kerumunan orang pun, aku tak pernah terlihat di matamu. Bahkan ketika mata kita mungkin bertaut satu sama lain, aku tak pernah jadi yang istimewa bagimu. Aku yang mencintaimu, sendirian. Dan kamu mencintainya dan dia juga mencintaimu. Itu adil namun begitu menyakitkan untukku.

Dulu, biasanya aku bisa menatapmu meski dari kejauhan yang sedang duduk semeja bersama. Aku cemburu. Hatiku terlalu sakit melihatnya. Namun aku ya tetap aku. Aku bukanlah siapa-siapa yang berhak mencampuri hubungan itu. Untuk berhak marah bahkan marah. Aku selalu mendo'akan bahagiamu meskipun saat mengucapkannya aku menangis sendiri. Tak ada yang bisa mengusap air mataku. Aku terlalu mencintaimu sehingga mataku seakan tertutup pada seorang yang sudah mencoba menerobos hatiku. Hatiku seakan buta. Kakiku seakan lumpuh sehingga aku tak lagi dapat berlari meninggalkan semua kenangan menyakitkan yang pernah aku rasakan saat ada kamu dulu atau sekarang.

Dulu, kamu pernah tersenyum padaku. Iya, senyuman manis itu benar-benar tertuju padaku. Mungkin aku yang terlalu berlebihan sehingga berpikir bahwa sebenarnya ada suatu ruang terselip yang kamu simpan untukku. Meskipun hingga kini, ada dia yang selalu menemani langkahmu. Tapi sekali lagi aku salah. Tak ada satupun ruang yang terselip untukku tinggal di hatimu. Seharusnya aku sudah lama pergi. Namun meski menyakitkan, mencintaimu merupakan salah satu bahagiaku. Merapal namamu dalam do'a sudah menjadi kebiasaan. Pasti ada yang kurang ketika do'aku tak menyebut namamu. Aku merindumu. Sekali lagi aku merindukanmu. Sudah tak bisa lagi aku menghitung sudah berapa kali aku merindukanmu. Semuanya terlalu menyakitkan sehingga sebenarnya aku tak mau untuk mengingatnya. Namun hati tak lagi dapat berbohong.

Aku mencintaimu untuk waktu yang tak dapat kutahu. Aku mencintai tanpa melihat kamu yang penuh dengan limpahan materi. Aku mencintaimu dalam keadaan apapun. Aku dulu tak pernah tahu bahwa kamu berlimpah materi. Namun bukan itu yang kucari. Bagiku, di dalam dirimu ada serpihan hatiku yang hingga kini belum dapat kutemukan. Entah itu apa aku juga tak mengerti. Namun, disini aku selalu menantimu. Hingga waktu yang tak dapat kutentukan. Aku mencintaimu, selalu mencintaimu.

"Biarkanlah mereka orang yang telah pergi meninggalkanmu tetap pergi. Jangan pernah mencari dan mencegahnya. Ia bukannya jahat, tapi dia sudah cukup baik untuk menjalankan perannya dalam cerita hidupmu. Namun bila dia adalah jodohmu, sejauh apapun dan sekeras apapun pergi meninggalkanmu, dia akan tetap kembali dalam jalan dan waktu yang tak pernah terpikirkan"

Aku percaya itu! Namun tetap saja sakit rasanya mencintai seseorang yang tak pernah menolehkan sedikit pandangannya padaku. Jadi aku akan buat sealami mungkin seperti air yang mengalir apa adanya. Jadi jika suatu saat, aku tak lagi dipertemukan denganmu. Mungkin Tuhan sudah menyiapkan pengganti baru yang jelas lebih baik. Namun rasanya tak mungkin untukku mencinta pada orang lain selain dia. Karena hingga kini, waktu yang kujalani selalu tentangmu dan mataku tak pernah benar-benar bisa melihat orang lain yang mulai menaruh harap padaku. Jadi maafkan bila aku menghancurkan harap yang dititipkan padaku. Karena harapku sendiri juga sudah dihancurkan olehnya. Aku berharap, sangat berharap. Bisa bertemu dengannya. Memulai atau menghentikan cerita yang tertunda dalam suatu ketika nanti.

Aku mencintaimu,
Dalam waktu yang tak pernah kutahu,
Aku merindukanmu,
Dalam jumlah yang tak pernah kuhitung,
Namamu selalu kurapal dalam do'a,
Meski sakit saat aku mengucapkannya,
Tetaplah bahagia, bersamanya,
Suatu saat, aku mau bertemu lagi denganmu,
Untuk melanjutkan atau menghentikan cerita yang tertunda ini.

Sabtu, 25 Januari 2014

Begitu Redupnya Langit Disana

Tiada yang menyalahkan keadaan bagaimana caranya seorang sedang jatuh cinta. Bahkan semua hal yang seharusnya dilarang menjadi wajib malah menjadi sebuah kebiasaan. Contohnya ketika merindukanmu. Iya, merindukanmu mungkinlah sesuatu yang dilarang namun bagiku tiada hari yang akan menjadi lebih baik tanpamu. Begitu redupnya bagiku langit bila aku tak melihat sunggingan senyummu. Namun mungkin aku yang salah mengartikan sebuah sunggingan manis kala itu. Saat itu aku meyakini bahwa mungkin dalam hatimu pernah hidup cinta untukku disana. Namun tetap saja, mungkin aku yang terlalu berlebihan dalam mengartikan senyuman yang tak berarti apa-apa.

Meskipun aku disini, kamu tak pernah mengalihkan pandanganmu padaku. Untuk kembali menyunggingkan senyum manis seperti kala itu. Semuanya terlalu fana dan semu. Rasanya sakit yang kurasa tiadalah artinya saat senyum itu kau tujukan untukku. Namun mungkin sekali lagi aku yang terlalu menganggap berlebihan padahal semua itu tiadalah ada artinya terutama bagimu. Kamu masih saja bersamanya. Rasanya tiada celah hati yang bisa kumasuki. Rasanya tiada hela napas yang kau hela berisikan namaku. Semuanya tetap tentang dia. Aku terlalu mencintaimu. Hingga membutakan mataku untuk melihat yang lain. Bagiku, masa depanku semua tentang kamu. Tiada gambaran masa depan bersama yang lain. Aku tak pernah menengok, aku selalu tertuju padamu karena tujuan hatiku adalah hatimu. Namun, sepertinya hatimu sudah ditempati seorang yang tak mungkin kukalahkan karena dia lebih begitu sempurna ketimbang aku.

Lelah rasanya menunggu. Menunggu sesuatu yang tak pasti dan tak berujung memang begitu menyakitkan. Dan semakin membuat menyesal pernah membuat keputusan untuk jatuh cinta begitu dalamnya. Aku mencintaimu. Iya, aku sangat mencintaimu. Namun tiadalah arti bila kau sendiri tak mengetahuinya. Namun lebih baik begini. Aku yang menanggung sendiri sakit yang kubuat. Luka yang kubuat karena kebodohanku. Semuanya terlihat menyedihkan. Tak ada yang lebih buruk daripada mencintai yang tetap akan diam dengan cintanya. Namun memang lebih baik begini daripada dia yang pastinya sangat kau cintai itu terluka. Lebih baik aku yang terluka asal kamu bahagia. Lebih baik aku yang menangis sendirian tanpa ada seorang yang mengetahuinya daripada kamu yang menangisi orang yang sangat kau cintai itu.

Tetaplah menjadi seperti ini. Tetaplah tersenyum meski semakin lama semakin sakit cobaan yang diberikan Tuhan. Tetaplah menjadi kamu yang kuat. Untuk mengarungi sebuah mimpi besar yang akan kau coba lagi kini. Aku, seorang yang selalu bersembunyi di batu. Selalu dan akan selalu berdo'a untuk kebahagianmu. Bersamanya atau tidak bersamanya. Untuk kesuksesan yang pernah tertunda dan kebahagiaan yang tidak pernah berhenti, Jadi, tetaplah buatlah aku tersenyum dengan tetap menjadi kamu yang kuat dalam meraih suksesmu yang tertunda yang lalu dan tetap tersenyum meski ujian semakin lama semakin berat.

Meski, mataku tak pernah lagi menangkap radar keberadaanmu, aku selalu mencintaimu. Bahkan ketika jalan sudah jauh bersebrangan, aku kan selalu berdo'a untukmu dalam jarak semu yang tak dapat kuhitung seberapa jauhnya aku bisa bertemu denganmu lagi. Tapi aku sekali lagi berkata bahwa aku sangat mencintaimu. Entah sampai kapan namun bagiku, tidak ada yang lebih selain memikirkanmu. Memikirkanmu bagai imaji impian semu yang menyakitkan namun menyenangkan. Apalagi ketika memori sedang memutarkan kenangan kala itu. Itu semakin membuatku merindumu. Namun ia tetap akan jadi imaji yang tetap semu dan tak pernah jadi nyata. Ia akan tetap jadi bunga tidur ketika mata tak lagi benar-benar menemukanmu lagi. Atau bahkan ketika tangis tak lagi bisa menggambarkan sebegitu rindu yang kurasa. Namun, cukuplah sudah cukup melihatmu bahagia dan tetap tersenyum dari kejauhan karena tangismu mungkin akan jadi pedang kematianku dan bahagiamu adalah obatku. Namun semahal-mahalnya sebuah obat bahkan sebaik-baiknya, obat ya tetap jadi obat. Itu tergantung dari tubuh yang menerimanya. Mungkin memang akan menjadi lebih sakit namun rindu memang ya tetap jadi rindu.

Waktu memang tega. Ia mengulur-tarik hati yang sudah berantakan. Namun waktu-lah yang kan kelak menunjukkan jalan yang lebih baik atas petunjuk Tuhan. Mungkin memang dia sedang marah padaku. Namun aku yakin bahwa suatu ketika nanti, waktu akan menjadi lebih baik daripada kini. Yang kan menunjukkan jalan terindah pilihan Tuhan. Semoga suatu saat ketika kita bisa bertemu lagi, aku masih bisa melihat senyuman manis itu dan wajah elok yang takkan pernah kan kulupakan. Namun kamu akan tetap menjadi kamu yang kucintai. Ya, sangat aku cintai.

Redupnya langit tak sebegitu redupnya seperti hatiku,
Namun setelah hujan merintik-rintik, ini akan menjadi serentetan pelangi,
Yang kan membawaku pada keindahan dan keabadian,
Namun kamu ya tetap kamu yang kucintai,
Meski tangan tak pernah saling menggenggam dan mengerat,
Namun aku ya akan tetap jadi aku yang selalu mencintaimu.

Kamis, 23 Januari 2014

Terseret Masa Lalu

Lagi-lagi menjadi seperti ini. Lelah rasanya untuk mengulang dan mengenang kembali masa lalu yang begitu menyakitkan itu. Aku pikir waktu 6 bulan adalah waktu yang sudah terlalu lama untuk tidak mengingatkan aku pada masa lalu yang menyakitkan. Namun nyatanya waktu itu hanya terhitung 6 bulan dan akan tetap menjadi seperti itu. Namun mengapa setiap kali aku mencoba sekuat tenaga menghapusnya, semua memori itu seperti menyeruak kembali dan kembali menyakiti hati yang belum sepenuhnya kering. Sudah cukup, aku hanya mengingatnya. Namun, aku merindukannya kini.

Tuhan, apa tujuanmu kembali menyeretku pada kenangan masa lalu yang begitu menyakitkan itu? Mengapa? Tidak pantaskah aku untuk bernapas lega tidak merasakan kesakitan untuk kesekian kalinya? Tidak pantaskah aku untuk tidak merasakan cinta selama aku ingin memfokuskan diri pada cita dan impiku? Tidak begitukah adil untukku sedang yang lain tak bernasib sepertiku Tuhan? Aku sudah cukup bahagia selama ini sudah sedikit tak memikirkannya. Namun, mengapa Engkau kembali mengingatkan aku padanya? Mengapa semakin sesak rasanya untukku bernapas kini? Mengapa semakin perih rasanya merindukanmu kini? Mengapa semakin pedih semua peluhku kini? Mengapa?

Apa maksudmu Tuhan? Tidak cukupkah aku di uji coba rasa sakit luar biasa ini? Tidak lelahkah aku kau beri perih selagi perih yang kumiliki belum kering sepenuhnya? Tidak cukupkah tangisku dulu untuk menebus kesalahan yang pernah kulakukan? Mengapa harus aku sedang yang lain terlihat cukup bahagia dengan orang yang ia cintai masing-masing? Mengapa harus dia yang sudah jauh, sudah takkan kembali lagi untuk menolehkan pandangannya kepadaku? Mengapa?

Tidakkah Engkau tidak akan memberikan kesulitan diatas kemampuan umat-Mu? Mengapa ujianmu kali ini begitu menyakitkan kalau pada akhirnya hati takkan menyatu. Bila pada akhirnya tangan tak pernah saling menggenggam. Untuk apa dikembalikan seperti ini Tuhan? Aku sudah berusaha untuk memulihkan hati yang terluka dengan keras. Kini puing-puing kehancuran itu tinggal sedikit untuk kubersihkan. Namun, jika menjadi seperti dulu, aku takkan lagi berpikir bagaimana caranya aku menyembuhkan hatiku sendiri. Mungkin aku pernah berpikir bahwa cuma kamu-lah yang memiliki obat dari sakit di hati yang tak kunjung sembuh. Namun, aku salah. Kamu hanya akan menambah luka semakin dalam dan lebih menyakitkan.

Mungkin bahkan aku bisa mati. Mati dalam luka yang kubuat sendiri. Bersama kebodohanku yang menuntunku kembali untuk mencintaimu. Tak ada perban yang sepenuhnya menyembuhkan luka ini. Ia hanya sedikit menutupnya agar tak semakin infeksi. Namun tak sepenuhnya menghilangkan bekasnya. Dan bekasnya itulah yang membuatku kembali merasakan sakit untuk kesekian kalinya. Dan kali ini aku kembali membuka luka itu. Dan mungkin akan semakin dalam hingga mungkin akan kehilangan banyak darah. Hingga pada akhirnya hati kan mati rasa karena kebodohanku sendiri.

Cukup...
Cukup rasanya menjadi seperti ini. Sakit rasanya tak dapat ku obati sendiri. Tangis sudah tak mampu lagi untuk ku bendung lagi. Aku kembali membodohi diri dengan mencintaimu. Iya, aku mencintaimu dalam diam. Merindukanmu dalam rapalan do'aku. Dan aku menangis dalam serentetan masa lalu yang begitu menyakitkan. Tak ada yang bisa kulakukan. Semua ini seperti takdir yang tak bisa untuk kuhindari dan kucegah. Jadi aku akan membuatnya untuk mengalir apa adanya seperti jalan Tuhan yang tak pernah aku tahu akan bermuara dan berakhir kapan dan pada siapa. Tapi aku yakin rencana Tuhan jelas lebih baik dari rencana buatanku.

Aku mencintaimu dalam diam,
Merindukanmu dalam rapalan do'aku,
Semua ini seperti takdir yang tak dapat kuhindari dan kucegah,
Jadi aku akan membuatnya mengalir apa adanya,
Karena rencana Tuhan jelas lebih baik dari rencana buatanku.

Minggu, 19 Januari 2014

[REVIEW] Etude Wonderpore Freshner & Clay Mask in 3 days

Heiloo, whats up girls?
Kali ini aku mau nge-review tentang produk yang baru beberapa hari aku pakai ya sekitar 3 harian deh. Bukan karena apa-apa atau promosi nih. Lagian aku juga nggak bakal pernah nulis ini kalau nggak aku rasain bener-bener manjur. Yah, seperti yang di tuliskan pada produknya yaitu memfokuskan pada komedo dan sebum yang berlebih. Dan baru sekitar 3 harian aku bener-bener ngerasain banget sedikit perubahan.

First time make Clay Mask, itu rasanya diantara perih dan panas. But, setelah selesai maskeran, wow banget. Kulit area T itu ya komedo sedikit terangkat dan permukaan kulit lebih halus. Super wow banget. Kalau begini terus sih gue bakal terus rutin pake maskernya nih. Dari segi baunya agak ke alkohol. But, setelah aku pake hasilnya excellent banget. Jangan kaget waktu liat dalem maskernya karena maskernya persis kayak es krim apalagi ada spatula buat pengaplikasiannya. Jadi makenya kayak nyolek es krim gituh, heheh :)

First time make wonderpore freshnernya yah, bikin kulit lembab yang pas jadi nggak sampek bikin kulit minyakan. Maklum muka gueh sedikit kayak kilang minyak. Dan jerawat juga agak kempes. Baunya lebih dominan kayak alkohol. Tapi kalau dilihat hasilnya sih gak masalah aja gueh yang penting wajah gue ada perubahan. Makenya bisa dibuat mist atau disemprotin langsung ke kulit. Atau bisa juga langsung di aplikasiin ke kulit langsung pake tangan atau bisa manfaatin bantuan kapas ditepuk-tepuk aja biar meresap.

Dan ini hasil review gue selama 3 hari, sebulan pemakaian ke depan bakalan aku review lagi yah :)
Semoga berkenan nih ya dan maaf bila ada kesalahan dalam penulisan, keep stay tune :)

Maaf gambarnya download dari internet kapan2 gue post yang punyaan gue ya :)


Kamis, 16 Januari 2014

Suatu Ketika,

Bulan bersinar namun tertutupi oleh deras hujan malam ini. Tapi sedikitpun tidak berkurang keindahan bulan malam ini. Aku sangat menikmati malam ini sambil menghela napas begitu panjang, aku kembali mengingat tentang serentetan kejadian yang menurutku lebih banyak menguras air mata. Mungkin aku lebih banyak terluka. Mungkin aku sedang diuji oleh Tuhan. Iya, aku ingin mencoba lebih tegar. Mencoba lebih memahami bagaimana cara Tuhan memahamiku untuk memberiku paket kebahagiaan, kelak.

Mungkin aku lebih banyak terluka. Itu karena aku yang dengan mudah percaya pada cinta. Bukan. Bukannya aku terlalu menyalahkan peran cinta. Lebih tepatnya aku terlalu mudah percaya dan terobsesi pada sepi yang tak berujung. Iya, aku lebih banyak kesepian dalam ruang yang tak pernah berujung. Iya, aku lebih banyak memilih untuk tetap tersenyum meski aku sakit. Aku tahu tak banyak orang yang dapat memahamiku. Bahkan diriku sendiri tak pernah bisa untuk memahami bagaimana sebenarnya isi lubuk hati terdalam. Mungkinkah aku sakit atau hanya.. entahlah.

Kelak, iya suatu saat nanti. Aku mau melihat seorang yang mau tetap tersenyum meski bagaimanapun keadaanku. Mencintaiku, mengagumiku tanpa jeda. Dan memelukku, mendukungku tanpa hela. Yang selalu memberikan bahu untukku menyandarkan segala peluh kesah. Yang selalu mendukung meski dunia berpaling dariku. Aku mau dia selalu mencintaiku meski banyak yang lebih baik dariku. Lebih cantik bahkan lebih pada segala-galanya dariku. Aku mau dia mengagumiku bahkan dalam keadaan paling bodohku. Aku mau dia tetap mengagumiku dalam hal yang paling terburuk sekalipun.

Iya, suatu ketika nanti pasti. Tuhan pasti akan mengirimkannya. Aku tahu itu. Aku mengerti itu suatu saat nanti. Akan ada yang melingkarkan bulatan bernama cincin dan membawaku menghadap Tuhan untuk mengikat diri dalam sebuah janji suci sekali seumur hidup. Mencium keningku tanpa peduli bahwa waktu akan berubah. Berubah ketika rambut mulai memutih dan tubuh pun kian renta. Aku mau dia tetap mencintaiku. Tetap mengagumiku meski aku melakukan kesalahan, namun dia tetap memahamiku.

Untuk seorang yang kelak, suatu saat nanti,
Menempati rumah dalam hatiku, untuk sekali dan terakhir kalinya,
Melingkarkan cincin di jari manisku,
Mencintaiku dan mengagumiku tanpa jeda,
Memeluk serta mendukungku tanpa hela,
Bahkan dalam keadaan terbodohku.